Pertama sekali, kita segenap Angkolit turut berduka cita dengan dipanggilnya Bapak dari saudara kita Fernando ke haribaan-NYA. Semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi-NYA dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan yang berat ini.
Mungkin sebagai renungan buat kita semua, mari kita menyimak kembali perihal sakit yang dialami Bapak kita. Berikut ini merupakan isi email dari Fernando (tertanggal 20 Januari 2010) yang saya edit biar tidak kepanjangan. Berikut kutipannya:
Sekitar bulan 9 tahun 2009 kemarin bapak merasakan sakit di dada. Setelah mencoba beberapa kali pengobatan di Medan dan tak kunjung ada pemulihan, kami sekeluarga memutuskan untuk membawa beliau ke Pulau Penang. Sempat terdengar kabar dari RS di Medan, beliau terkena kanker paru paru. Namun untuk lebih memastikan, positif lah beliau kami bawa ke RS Adventist Penang.
Setelah melalui CT Scan, cek darah dan sebagainya, beliau positif terkena kanker paru-paru stadium paling tinggi yaitu stadium 4. Mendengar kabar saat itu jujur saya pribadi sangat terpukul dan hancur. Puji Tuhan saat itu pihak dokter masih menunjukkan harapan adanya tindakan medis yang masih bisa ditempuh, dengan kata lain Tuhan masih beri kesempatan untuk diberikan pengobatan.
Pengobatan yang telah dilakukan pada bulan Desember 2009 kemarin adalah Radioterapi (penyinaran) sebanyak 5X, dan Kemoterapi sebanyak 1X di RS Mount Elisabeth Penang. Setelah 2 minggu di Penang, dan kondisi bapak juga udah lumayan dengan menunjukkan perubahan pada saat itu, tanggal 25 Desember 2009 bapak dan mama kembali ke Medan untuk perawatan di rumah, sambil menunggu Kemoterapi kedua pada tanggal 13 Januari 2010.
Tanggal 13 Januari 2010 bapak dan mama kembali ke Penang untuk rencana Kemoterapi yang ke 2. Namun Tuhan berkehendak lain, ternyata kondisi fisik bapak semakin menurun. Dokter mengatakan adanya gangguan pencernaan dan infeksi di saluran pembuangan sehingga menyebabkan beliau harus naik ke meja operasi. Operasi tersebut bertujuan membuat kantung pembuangan saluran pencernaan sementara. Kakak saya yang kedua akhirnya ikut berangkat menemani mama di Penang, karena mama tidak tahan sendirian.
Vonis dokter keluar lagi, dan terus bertubi-tubi. Dokter di Penang menyatakan bahwa kanker bapak telah menyebar hingga kerongkongan, sehingga menyebabkan aliran darah dan oksigen ke jantung terhambat. Bantuan tabung oksigen lah yang membuat beliau bisa bertahan selama di penang dan sampai dengan saat ini.
Melihat kondisi yang semakin kritis, akhirnya Read the rest of this entry »



